Meninggalkan Keluarga Demi Kuliah Ke Luar Negeri

Tulisan ini awalnya untuk berbagi pengalaman dengan seorang kawan yang berencana meninggalkan keluarga untuk kuliah ke luar negeri.

Tahun 2012 saya beruntung bisa mendapatkan Beasiswa STUNED untuk belajar di Leisure Studies Department, Tilburg University, Belanda. Program master saya hanya satu tahun, dari September 2012 sampai Agustus 2013 (tapi karena
ada semacam program matrikulasi statistik, saya harus berangkat akhir Juli 2012).

Dengan berbagai pertimbangan, saya dan suami sepakat untuk tidak membawa anak-anak (waktu itu 3
tahun dan 6 tahun) ke Belanda. Pertimbangan-pertimbangan itu adalah:
1. Waktu kuliah yang cukup singkat tapi padat, 1 tahun. Ini faktor utama. Lebih baik saya fokus belajar, tidak usah terganggu urusan keluarga.
2. Jumlah beasiswa yang pas-pasan untuk membawa keluarga. Dengan beasiswa sekitar 970 euro per bulan, kami tidak yakin bisa membiayai kebutuhan hidup sekeluarga.
3. Masalah visa atau peraturan yang konon cukup ketat untuk membawa anggota keluarga ke Belanda. Kami sempat mendengar kabar harus menunggu berbulan-bulan sebelum keluarga bisa datang. Ditakutkan mengurusi ini-itu bisa mengganggu konsentrasi belajar saya.
4. Kontrak dengan STUNED yang berisi sebaiknya tidak membawa anggota keluarga.
5. Suami tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Selain itu dia juga sedang mengejar beasiswa untuk S3. Kami berencana untuk berangkat bersama keluarga KALAU dia dapat kuliah ke luar negeri tahun depannya.
Alhamdulillah dapat. 🙂

Nah, memang ada teman seangkatan saya yang bisa bawa keluarga langsung ke Belanda. Tapi memang anaknya masih bayi dan suaminya bisa mendampingi. Selain itu programnya juga 2 tahun. Akhirnya itu pilihan, sih.

Lalu, problem apa yang saya hadapi ketika meninggalkan keluarga di tanah air?

NEGATIF-nya dulu, ya, hehehe…..
1. Kangeeeeeeeen! Hampir tiap malam nangis kangen anak, hehe. Baru naik pesawat aja udah nangis tersedu-sedu. Kirain gampang soalnya kan udah sering ninggalin anak dinas. Tapi ternyata kesepian ini (nyaris) membunuhku, hiks hiks. Mana kalau skype-an, biasanya dicuekin. Tapi pelampiasannya akhirnya jadi makin alim alias rajin berdoa. 🙂

2. Stress belajar. Mungkin karena susah kuliahnya, campur kangen juga, hehe. Jujur aja, ada suatu malam ketika saya nggak mau skype sama suami dimatikan, sambil saya mengerjakan paper.

3. Saya nggak gaul. Karena mau fokus belajar, saya cenderung nggak gaul sama teman-teman asing maupun Indonesia. Kadang-kadang banget sih datang semacam international party (eh pernah juga sih jadi
organizer-nya, hehe lumayan juga ternyata). Hampir nggak pernah datang acara PPI. Sama anak-anak Indonesia ya kenal, mereka juga kadang main ke rumah, sih. Kadang-kadang teman-teman kuliah juga datang ke
kamarku, makan masakan Indonesia. Tapi secara umum, bagi saya yang suka bergaul, di Tilburg saya nggak terlalu banyak bergaul.

4. Pertumbuhan anak-anak nggak bisa saya kontrol. Anak-anak saya ada di rumah Jakarta, diasuh suami saya (yang meskipun sering di Jakarta tapi minimal 2 hari seminggu harus mengajar di Serang. Alhamdulillah
semester selanjutnya si Abah bisa kursus IALF di Jakarta). Selain suami, ada Mbak Ona (saudara sekaligus pengasuh), dua adik saya, dan ayah saya yang bolak-balik Surabaya-Jakarta. Meskipun saya rajin skype, mengingatkan si Abah dan anggota keluarga di rumah Jakarta soal pengasuhan anak, tetap saja saya nggak pegang langsung. Nah, kalau bukan sama orang tua, anak-anak cenderung dimanjakan. Akibatnya, ini terasa ke Ilham yang masih balita, jadi
keras kepala. Setelah kami berkumpul kembali, butuh terapi berapa lama sampai dia bisa lebih mandiri dan sabar. Sepertinya ada luka hati yang tak terlihat meskipun dari luar terlihat baik-baik saja. Aya? Hmm, dia cenderung baik-baik saja, mungkin karena sudah lebih besar waktu ditinggal, baru masuk SD.

Tapi jangan kuatir, ada juga sisi POSITIF-nya:
1. Prestasi belajar saya lumayan. Ya, nggak istimewa, sih, meskipun ada juga paper yang dipuji-puji, halah, hehe. Tapi bisa lulus tepat waktu (lebih dari separuh mahasiswa jurusan saya nggak tepat waktu) dan dapat nilai nggak merah aja udah alhamdulillah banget. Meskipun stress belajarnya, tapi saya merasa sangat beruntung bisa belajar sesuatu yang saya sukai dan bakal berguna di masa depan -> this was priceless, worth the pain. 😉

2. Saya banyak jalan-jalan. Sendiri. Untuk melepaskan diri dari kepenatan, pelarian saya jalan-jalan. Saya jadi solo traveler ke Italia, Jerman, Swiss, Hungaria, Austria, Ceko, Slovakia. Saya ke Perancis sama si Abah. Saya ke Spanyol sama adik-adik saya. Kalau sama teman-teman kuliah paling ke Belgia. Oya, saya juga penelitian buat tesis ke Estonia selama 2 minggu. Disambung nyebrang ke Finlandia. Sendiri lagi, nginep di hostel, bergaul sama bule-bule, hehe. Enak ternyata jadi solo traveler, bisa banyak merenung, gak rempong. Untung juga di semester 2 saya bisa pulang kurang lebih 1,5 bulan buat penelitian di Indonesia. This traveling was also a spiritual moment for me, dan semacam ‘me time’ yang tertunda bertahun-tahun.

3. Bisa nabung? Nggak juga, siiiih, heheheheeeee…..

Ya, kira-kira segini dulu, deh. Moga-moga bermanfaat. Kalau boleh menyarankan, sih, baiknya anak-anak dibawa aja segera. Tapi faktor suami juga menentukan, ya. Ada suami yang mau ikut, ada suami yang nggak mau (misalnya suami saya, peace, Bah -> katanya, lebih rempong jadi single parent kaleee hehe). Tapi ada juga lho, ibu-ibu yang  bawa anaknya tanpa suaminya. Misalnya kakak iparku di Kobe. Memang semua ada kelebihan dan kekurangannya. Semoga bisa mengambil keputusan yang terbaik!

Leave a comment