Curug Kendang, Carita

Apa yang Anda bayangkan tentang Pantai Carita, Pandeglang, Banten? Harga makanan mahal (karena “ditembak” pedagang)? Atau pantai kotor nan semrawut? Ya, itu lah yang memang saya temukan ketika tadi pagi ke Pantai Carita.

Pantai Carita terletak di ujung selatan Pandeglang, Banten. Saat masa liburan, jangan tanya macetnya. Untung, saya dan keluarga berangkat habis Subuh dari rumah mertua di Kota Pandeglang. Kurang lebih sejam perjalanan kami dengan mobil pribadi ke Carita. Sekitar jam 7 pagi kami sudah sampai.

Melihat gerbang masuk pantai yang megah, kami masuk saja dan bersedia membayar Rp. 80.000,00/mobil. Ternyata, di dalamnya tak ada pantai berpasir. Gerombolan pedagang makanan mengerubuti kami, kerumunan para pemilik perahu menawarkan kam berlayar ke pulau seberang. Bukannya tak berempati dengan massyarakat yang tersisihkan pembangunan pariwisata di sini, tapi jujur kami terganggu.

Hampir saja kami berbalik pulang, ketika suami menyodorkan ide. “Kita ke Curug Kendang, yuk, air terjun di atas gunung,” katanya, “Tapi jalannya agak jauh, kita hiking ya.” Meskipun agak ragu, kami akhirnya mengiyakan ajakan suami. Kami berjalan mendaki menuju Curug Kendang. Di papan penunjuk jalan, tertulis: Curug Kendang 4 km. Fiuh, sanggupkah kami? (baca: saya) Demi tekad mendidik anak-anak agar jadi kuat, saya menegarkan diri. Apa nggak bisa pakai kendaraan? Sebenarnya, sih, bisa naik motor. Atau mobil sports, meskipun jalurnya terlalu curam juga, sih.

Sepanjang perjalanan, kami terhibur dengan pohon-pohon besar nan hijau. Mulai dari pohon mahoni sampai pohon durian. Ya, Curug Kendang ini masuk kawasan Pehutani. Kawasan ini sering pula disebut Tahura (Taman Hutan Rakyat). Sejuknya Udara membuat hati kami riang gembira. Kadang-kadang takut juga, sih, tiba-tiba ada monyet bergelantungan atau anjing menyalak. Dalam perjalanan, kami bertemu beberapa warga yang mengangkut durian. Hmm, kelihatannya durian jatohan-nya lezat. “Punten,” begitu kami menyapa warga.

Tiba-tiba jalan selebar kurang lebih satu meter menciut jadi jalan setapak. Belum lagi curam dan licin. Saya makin deg-degan. Tapi anak-anak tetap semangat. Jadi malu. Jalan setapak sekitar 2 km hampir membuat saya pingsan. Sering tergelincir di tanah yang basah (untung tidak hujan). Harus menutup mata melihat jurang di bawah. Hehe, maklum bukan anak pecinta alam.

Ketika sudah hampir putus asa, saya melihat air terjun yang mengalir deras. Wow, it’s so rewarding! Akhirnya kami sampai! Kelihatannya segar! Aduh, tapi saya harus menahan diri karena harus menjaga barang milik anak-anak. Biar makin tergoda, dipajang saja, deh foto anak dan keponakan saya di Curug Kendang:

Pulangnya, saya menggandeng tangan suami dan berkata, “Terima kasih buat perjalanan ini.” 😉

Leave a comment