Sekitar dua minggu yang lalu saya ke Beijing, Tiongkok. Bukan, bukan mau cerita soal saya berhasil jalan-jalan sendiri ke Tembok Raksasa. Meski itu juga bagian yang mengesankan, hehe. Gimana nggak, setelah naik subway dan bis nomor 877, akhirnya saya bisa merasakan si tembok, mendaki sampai menara ke-4 di Selatan. Fiuh.
Ah, bukan juga tentang gimana bersihnya toilet di atas Tembok Raksasa dan tempat-tempat sampah di sepanjang tembok.
(Ini tempat sampahnya)
Yang mau kuceritakan adalah betapa kuatnya hasrat Tiongkok memimpin dunia, pun di sektor pariwisata.
Pengelolaan Tembok Raksasa sebagai destinasi pariwisata utama mungkin salah satu contohnya. Bagaimana citra Tiongkok yang jorok bisa dihilangkan di sana. (Masalah nggak antri sih masih hehe).
Jadi saya ke RRT dalam rangka the First Conference on Tourism for Development and Peace sekaligus the 7th G20 Tourism Ministers’ Meeting, 19-20 Mei 2016. Acara ini diadakan CNTA (China National Tourism Administration) Dan UNWTO. Ceritanya, mendampingi Menteri Pariwisata (abaikan :D). Dua pertemuan ini diadakan di Great Hall of China, semacam Istana Merdeka-nya Tiongkok (katanya), tepat di hadapan Tiananmen.
Waktu pembukaan, Ketua CNTA dan Wakil PM RRT mengulang-ulang fakta pariwisata Tiongkok seperti yang ada di berita berikut.
Oh, wow, RRT lagi pengen menunjukkan ke dunia, nih: kami juga BESAR di pariwisata. Kami mengirim banyak turis (terbesar di seluruh dunia tahun 2020 menurut prediksi UNWTO) dan kami siap menerima banyak turis asing (nomor 4 menurut UNWTO / http://www.telegraph.co.uk/travel/news/Tourism-in-2015-the-biggest-winners-and-losers/). Belum lagi, turis kami paling doyan belanja, lho (https://www.weforum.org/agenda/2015/12/which-countrys-tourists-spend-the-most-money/).
Tak heran, mereka minta fasilitasi visa ke negara-negara di seluruh dunia. Hmm, padahal beberapa dekade sebelumnya, RRT menerapkan kebijakan ADS (Approved Destination Status).
Anyway, Tiongkok ini percaya diri banget. Seminggu setelah acara yang saya hadiri, mestinya ada APEC Ministerial Meeting di Peru. Baiklah, dua pertemuan setingkat menteri pariwisata dalam waktu dua minggu. Nggak disengaja gitu? 😉 Terus, ada gitu menteri pariwisata yang bakal datang di dua acara itu? The message: mau pilih RRT atau APEC? Hehe hehe, tafsir saya aja sih, kebanyakan bergaul sama anak HI, sih.
Yah, intinya, bersiap-siaplah menghadapi serbuan wisatawan Tiongkok. Itu yang diharapkan, toh? 😉












