Sehabis acara keluarga waktu liburan lebaran ini, saya sekeluarga memang niat jalan-jalan ke Bromo.
Jadilah kemarin, kami naik kereta Mutiara Selatan jam 9 pagi dari Stasiun Gubeng, Surabaya. Jam 11 kami sudah sampai di Stasiun Probolinggo. Oh ya, karena naik di kelas eksekutif, harga tiketnya Rp. 90.000,00.
Dari Stasiun Probolinggo, kami makan siang di sekitar stasiun. Lanjut naik Lin/Angkot warna kuning ke Terminal Probolinggo sekitar 20 menit, bayar Rp. 5.000,00/orang.
Di Terminal Probolinggo, harus naik Elf untuk sampai ke kaki Gunung Bromo. Uniknya, kami harus menunggu seluruh kursi penuh, baru si Elf meluncur. Untunglah kuota 12 orang penumpang Elf cepat terisi. Per orang bayar Rp. 35.000,00. Penumpangnya sebagian turis-turis asing dari Perancis, Jerman, dan Inggris. Sebagian lagi wisatawan domestik ala kelas menengah ngehek kayak saya haha.
Kurang lebih senam perjalanan menuju hostel pesanan kami. Di jalan, saya ngobrol dengan para bule, juga supir dan kondektur Elf. Kebetulan si supir, Yudha, orang Probolinggo keturunan Madura, jadi ngobrol sama saya ya pakai Bahasa Madura. Turun dari Elf, Ayal komentar, “Ibun hebat, bisa ngobrol sama banyak orang, dari bule sampai supir.” #bangga #narsis 😀
Di Istana Petani Homestay, hari sudah menjelang sore. Kami beristirahat, mempersiapkan fisik sebelum ke Bromo jam 3 pagi. Di Istana Petani, harga kamar standarnya Rp. 390.000,00 (pesan via telpon). Sambil santai, kami menikmati senja dari balkon kamar. Oh ya, harga makanan di Warung Emak -restoran hostel – juga murah banget, Nasi Goreng Rp. 18.000,00 per porsi contohnya.
Jam 3 pagi, kami berangkat ke Penanjakan untuk lihat matahari terbit di Bromo. Kami naik Hardtop keluaran tahun 1982 disupiri Pak Surono, bayar Rp. 600.000,00 untuk 4 tempat di sekitar Bromo. Di jalan, kami ngobrol ngalor-ngidul, terutama tentang ramainya Bromo saat libur lebaran kemarin.
Sempet juga kena macet, biasanya sih pas bayar tiket masuk. 2 Kali! (Kenapa nggak disatuin aja sih? -_- ) Pertama, bayar tiket ke Pemkab, Rp. 5.000,00/dewasa. Kedua, ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Rp. 25.000,00/dewasa + Rp. 10.000,00.

Akhirnya kami sampai di Penanjakan. Wow, ternyata sudah banyak berubah sejak 14 tahun lalu saya dan suami (ehm waktu itu masih tenan) ke sana. Waring makan tertata lebih rapi, wisatawannya pun jauh lebih banyak. Jadinya, susah juga kita dapat sunrise, kehalang pantat orang haha. Ya, inilah hasil foto sekadarnya, sunrise in Bromo.
Puas lihat sunrise, kami menuju kawah Bromo. Dari parkiran, harus jalan kaki kurang lebih 3 km sampai anak tanggal dekat kawah. Anak-anak merengek minta naik kuda, ya sudah dibolehin aja deh. Bayarnya Rp. 125.000,00/orang. Hitung-hitung berkontribusi ke orang Tengger asli yang bawa kuda itu.
Belum selesai perjalanan kami, harus naik 250 anak tanggal menuju kawah. Benar-benar harus siap fisik. Sudah sampai puncaj, kaki saya gemetar. Gimana nggak, ratusan turis di pinggir kawah cuma dibatasi kayu kering. Belum lagi, tiba-tiba, “Buuuuuum!” Kawah Gunung Bromo mengeluarkan letusan debu. Haduh, saya sampai ndelosor, duduk di tanah pinggir kawah saking takutnya. Jangan kan foto-foto, berdiri aja saya nyaris nggak sanggup! #coward 😀 Mana si Ayal nangis2 juga ketakutan. Untung kita ditolongin orang-orang, mulai dari turis Perancis sampe warga lokal.
Akhirnya, nyampe juga ke bawah!
Setelah kawah Bromo, lanjut ke Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies. Lihat foto-fotonya saja ya, ini kereta ke Surabaya udah mau datang. ^^
Probolinggo, 12 Juli 2016



