
Senin, 8 Mei 2017
Penerbangan Hongkong ke Beijing yang mendebarkan. Baru lima menit Cathay Pacific meninggalkan daratan, guncangan hebat terjadi. Saat itu, yang kupikirkan Cuma Tuhan, dan orang-orang yang kucintai.
Dalam keadaan genting, kau tahu sebenarnya apa yang paling penting dalam hidup.

Selasa, 9 Mei 2017
Meeting, eating, meeting, and eating.
Makanan yang mubazir adalah salah satu tradisi menjamu ala orang Tionghoa. Karena habisnya makanan menandakan kau tak sediakan cukup makanan untuk tamu.

Rabu, 10 Mei 2017
Bukit Silikon di Pinggir Beijing
Demi menjaring 10 juta turis Tiongkok, buruh negara ini (baca: saya) harus mengusahakan kerja sama pemasaran digital. Diundanglah kami oleh berbagai perusahaan/media online Tiongkok yang berusaha menampung uang pajak rakyat Indonesia. Baidu, Qunar, Weibo, WeChat, hanyalah beberapa nama.
Datanglah saya dan tim Kemenpar ke Zhongguanchun, suatu area seluas sekian hektar di utara Beijing. Konon, inilah Silicon Valley-nya Beijing. Berbagai kantor pusat (headquarter) perusahaan teknologi ada di sini: Baidu (Google-nya Tiongkok), Weibo (Twitter-nya Tiongkok), Microsoft, dsb.
Saya tanya ke rekan dari Baidu, “Ada berapa perusahaan?” Dia juga tak tahu pasti. Tapi, Baidu saja punya 5 (lima) gedung sebesar ini:

Ketika saya masuk ke dalam gedung Baidu dan kemudian Weibo, saya melihat pengamanan yang begitu ketat, dan anak-anak muda (paling tua mungkin 30-an tahun) yang bekerja dengan giat.

Kata rekan dari Baidu, pemerintah Tiongkok membantu area ini dengan cara pemotongan Pajak untuk tanah.

Tersasar di Masjid Tertua di Beijing
Sorenya, aku sempatkan diri jalan-jalan ke Masjid Niujie, masjid tertua di Beijing. Karena sudah hampir gelap, aku naik taksi sambil dipesenin mau pergi ke mana sama teman dari Tiongkok. Sudah dipesenin gitu, supir taksinya masih juga nurunin aku nggak pas di depan masjidnya. Bingung, lah. Daerah itu kelihatannya memang daerah muslim, dilihat dari banyaknya restoran makanan halal. Tapi begitu aku tanyakan, “Where is the mosque?” orang-orangnya nggak ngerti. Duh. Sampai aku di semacam kantor Islamic Centre. Deg-degan aku masuk ke halaman gedungnya. Di sana ketemu seorang pemuda, aku nekad bertanya dalam Bahasa Inggris. Ternyata dia lumayan ngerti. Aku diantar ke masjid, padahal lumayan jauh, 500 m ada kali. Sambil jalan, kami coba berkomunikasi dengan Bahasa Inggris yang terbata-bata. Akhirnya, kami sampai juga di Masjid Niujie. Terima kasih, wahai pemuda! 🙂



Kamis, 11 Mei 2017
Hari ini tersasar (lagi) di area rumah susun d kompleks pertokoan mewah Sanlitun. Seperti biasa, pagi-pagi aku iseng lari pagi di sekitar hotel. Dan seperti biasa, tersasar, hehe. Ternyata di balik megahnya gedung-gedung pertokoan dan hotel, ada kompleks rumah susun plus segala fasilitasnya: pasar, sekolah. Di gerbang sekolah, kulihat dua murid dan guru menyambut teman-temannya. Sepertinya bilang, selamat datang atau selamat pagi. Ah, tiba-tiba ingat masa anak-anakku sekolah di Jepang. Selalu ada guru yang menyambut di pintu gerbang. Eh, jangan salah, di sekolah mereka kini di Tangerang, tiap pagi guru-guru juga menyambut di gerbang. Balik lagi soal nyasar, aku memberanikan diri bertanya ke salah satu guru, di mana hotel yang aku tempati (sambil nunjukin kartu nama, soalnya kan nggak bisa Bahasa Mandarin). Nggak disangka, guru SD itu mengantarkan aku sampai ke dekat hotel. Terima kasih, wahai Pak Guru. 🙂


