Akhirnya ke Tanjung Lesung

Libur lebaran kali ini, 17-19 Juni 2018, akhirnya saya bisa berkunjung ke Tanjung Lesung. Kawasan wisata ini letaknya di ujung barat Provinsi Banten, tepatnya di Kabupaten Pandeglang. Kenapa “akhirnya”? Karena suami saya orang Pandeglang asli dan kami sudah menikah hampir empat belas tahun, hehe. Ini, nih, tampang suami tercinta dan keluarga besar kami:

Anyway, perjalanan ke Tanjung Lesung ini sudah direncanakan keluarga besar suami sejak lebaran tahun lalu (sungguh terencana, ouch 😁). Bagus sih, soalnya biaya nginap di Tanjung Lesung Beach Hotel kan nggak murah, jadi harus nabung. Eh, tapi kalau mau ke sini dengan biaya terbatas, banyak juga homestay di sepanjang jalan sebelum kawasan eksklusifnya.

Bagi saya sebagai pegawai Kementerian Pariwisata, ke sini penting karena Tanjung Lesung ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus, satu dari 10 Bali Baru. Berarti, pembangunan 3A (Attractions, Amenities, Accesibilities) di Tanjung Lesung bakal gencar dilakukan.

Soal akses, lumayan oke, sih. Jalan ke Tanjung Lesung mulus. Dari Karawaci ke sini cuma 3 jam… berangkat abis Subuh, hehe. Kalah udah kena macet ya wassalam. Soalnya cuma ada satu jalan menuju Tanjung Lesung. Beda cerita ntar kalau jalan tol Serang-Panimbang udah jadi ya. Katanya sih bakal jauh lebih cepat menuju ke sini.

Soal amenitas, ya itu, yang paling menonjol ya akomodasi eksklusif (Tanjung Lesung Beach Hotel, Kalicaa Village, dan beberapa resort yang lagi ditawarkan ke investor). Sekitar kawasan, tepatnya dekat dermaga tradisional Cipanon, ada beberapa homestay. Cuma nggak tau kualitasnya. Oh ya, kualitas pelayanan hotelnya juga nggak banget, terutama restorannya.

Soal atraksi, menurut saya pantai Tanjung Lesung termasuk salah satu yang terbaik di sepanjang Pulau Jawa. Masih cukup bening, tenang, dan lumayan dapat lah tosca-tosca-nya. Beda karakter, sih, ya sama Pantai Selatan yang berombak dan ada Nyi Roro Kidul. Masalahnya, pantai di sini – Tanjung Lesung Beach Club – memang ada di kawasan eksklusifnya, harus bayar Rp. 60.000,00 per orang. Hmmm, sebagai pejuang pantai untuk publik, aku merasa terganggu juga nuraninya. 😑

Kalau mau pantai yang bagusan, dua jam dengan speed boat dari sini juga bisa nyampe Krakatau dan Ujung Kulon (meskipun muahaaal). Nah, kalau jarak sedang aja, bisa ke Pulau Liwungan, 30 menit naik kapal tradisional dari Dermaga Cipanon (Rp. 500.000,00) atau speedboat dari Beach Club (Rp. 1.200.000,00). Konon pulau ini punyanya almarhum abahnya mantan Gubernur Banten. Lumayan lah pantainya untuk pemula (kayak saya) dan bawa rombongan keluarga.

Oh ya, sebenarnya di sekitar sini ada Desa Wisata Cikadu. Katanya sih tempat orang-orang yang digusur kawasan KEK. Tapi kemarin belum sempat ke sini euy, keburu macet.

Wah, ternyata saya kebanyakan analisa, yah. Bukannya nikmatin liburan woiiiiii. 😅 Ya udah, selamat menikmati foto-foto di Tanjung Lesung, yah.

Leave a comment