Nikmat Tuhan di Simuelue

Fabiayyi ala irabbikuma tukadzdziban. Nikmat Tuhan manakah yang engkau dustakan.

Begitu senandung imam kudengar lamat-lamat dari masjid seberang penginapan di Simeuleu. Saat ini memang aku sedang berada di pulau sebelah timur Aceh. Tapi menuju ke sini via pesawat ATR, justru harus dari Medan.

Nikmat Tuhan itulah yang kurasakan bahkan ketika masih di pesawat, memandang Simeulue dari atas. Sungguh indah ciptaan Tuhan. Laut yang biru bergradasi. Hijaunya hutan.

Siapa yang sangka bahwa pulau seindah ini tersapu tsunami paling tidak dua kali dalam sejarah. Tapi lagi-lagi nikmat Tuhan, saat tsunami Aceh tahun 2004, penduduk di Simeulue tak satu pun jadi korban karena kearifan lokalnya.

Di sini, aku hadir untuk meliput Kejuaraan Selancar Internasional. Di sepanjang pantai Matanurung tampak bule-bule dari Australia, Selandia Baru, Spanyol, Italia dengan papan selancarnya. Menurut Pak Andi, pemandu lokal kami, wisatawan asing juga bergaul dengan masyarakat lokal yang mayoritas Islam. Bahkan beberapa di antaranya menjadi mualaf.

Jadi nikmat Tuhan mana lagi yang akan kualami hari ini di Simeulue?

Senja di Pantai Matanurung

Fajar di teluk kota Sinabang, Kabupaten Simeulue Timur

Kopi di Warung Bang Jul

Pantai Pulau Bengkala

Pantai Labuhan Bakti

Pantai Pasir Tinggi

Hadeuh, kalau nggak ingat anak suami, kagak pulang-pulang aye. 😀

Leave a comment