Semalam di Makassar

“Tidak cukup hanya semalam, ji,” begitu kata pengendara mobil yang mengantarkan saya, dengan logat Makassar yang khas.

Ya, bagaimana lagi, Pak, namanya juga perjalanan dinas. Begitu tugas selesai, ya mesti cepat-cepat pulang. (Bisa sih kalau mau memperpanjang, dengan biaya sendiri :-p)

Ini juga dadakan, tiba-tiba diminta pimpinan untuk mendampingi anggota DPR Komisi X mengunjungi Politeknik Pariwisata Makassar. Ini foto-fotonya. Yang paling menarik sih waktu masuk dapur praktek, nglihat mahasiswa menyiapkan pastry, hehe.

Berangkat pesawat paling pagi dari Jakarta, saya “bertugas” sampai kira-kira Maghrib. Untungnya, masih sempat menyaksikan matahari terbenam di Pantai Losari. Klasik.

Pantai yang sudah terkenal sejak jaman kapan tahun ini selalu ramai saat senja. Sekarang penataannya juga makin rapi. Ada Masjid Terapung Amirul Mukminin dan sedang dibangun Masjid 99 Kubah (katanya arsiteknya Ridwan Kamil, bener nggak sih?).

Nah, waktu lagi asyik foto-foto sunset, ada seorang remaja yang mengingatkan waktu Sholat Maghrib. Maaf lagi nggak sholat, Dek. 🙂

Tapi memang belum juga Isya’, musik dangdut sudah ramai di ujung pantai yang lain.

Seru mengamati orang-orang di Pantai Losari.

Setelah itu lanjut wisata kuliner dong: Konro Karebossi. Nggak pernah gagal kuliner di Makassar, enak banget. (Siangnya sudah makan seafood yang segar)

Tenang saja, bulan Oktober insyaallah kami sekeluarha kembali kemari. Karena tak cukup semalam di Makassar.

Makassar, 8 September 2018

Leave a comment