“Then which of your Lord’s favours will you both deny?” (Quran, Ar-Rahman)
2 Oktober 2004, Abah Hamid memberi saya hadiah pernikahan berupa hapalan surat Ar-Rahman.
13 Februari 2021, Abah Hamid bertemu dengan Sang Maha Pengasih, dipeluk keabadian. Saya berprasangka, dan pasti, Sang Maha Pengasih menyayanginya lebih dari kita semua yang menyayanginya.
Nikmat Tuhan tak henti-hentinya datang dalam 16 tahun pernikahan kami. Yang paling nyata, kehadiran Ayal dan Ilham.
Kini, setelah Abah pergi, nikmat Tuhan juga terus mengalir. Mulai dari kelancaran urusan pemakaman; doa dan simpati yang terus mengalir dari segala penjuru bumi (kubaca dari whatsapp, facebook, instagram, walau taksanggup kubalas karena keburu mewek); pengakuan tentang kebaikan Abah yang terbuka satu per satu; doa bersama virtual inisiatif mereka yang mencintai Abah; puluhan karangan bunga di rumah kami rumah orang tua, rumah kakak, makam (yang sebagian saya nggak kenal); uang duka yang saya sungguh nggak menyangka, kuanggap itu bentuk kasih teman-teman untuk Abah dan keluarga; dsb.
Sungguh menakjubkan melihat jiwa-jiwa yang tersentuh Abah. Semuanya, walau membuat air mata tak pernah kering, menjadi penghiburan kami sekeluarga.
Terima kasih tak akan cukup untuk diucapkan ke semua yang mencintai Abah. Hanya bisa berdoa semoga Ar-Rahman melindungi teman-teman dengan kasih-Nya.
Saya percaya Abah sudah bahagia bersama Yang Maha Pengasih. Diantar doa yang tak putus-putus; sedekah jariyah; dan ilmu bermanfaat yang selalu Abah sebarkan dengan gairah.
Kini tinggal tugas saya melanjutkan perjuangan Abah. Mendidik Ayal dan Ilham menjadi anak saleh. Dua jiwa yang seumur hidupnya disentuh Abah – literally – mulai dari digendong, dimandikan, disuapin, dipeluk, dicium, didongengin, dsb dsb. Wish us luck.
.
Pandeglang, 14 Februari 2020

