Mamah adalah Rumah

Dulu banget pas jaman kuliah naksir Abah, saya suka heran. Hamid ini sepengamatanku sering pulang ke Pandeglang, kampung halamannya yang berjarak sekitar 3-4 jam dari Depok. Saya pikir karena ada kecengannya atau ada kegiatan apa.

Mungkin benar juga, sih. Tapi di kemudian hari saya tahu itu lebih karena kedekatan dengan ibunda Abah yang biasa dipanggil Mamah. Bukan dekat yang bagaimana, keluarga Hamid bukan tipe yang suka mengumbar perasaan juga. Tapi melihat dan ngobrol sama Mamah sepertinya sudah menjadi modal kekuatan hati Hamid.

Abah adalah anak ke-7 dari 8 bersaudara. Pangais bungsu istilah orang Sunda. Mamah sering memanggil pangais bungsunya ini sebagai “awak sampayan”, artinya kira-kira kasep kitu, pantas pakai baju apa aja. Hehe, pantas kalau Abah percaya diri ya, nggak ada insecure-insecurenya. Lha wong sesuai teori parenting, Ibundanya benar-benar menunjukkan kasih sayang dengan pujian.

Setelah menikah dengan Abah, saya juga merasakan betul kasih sayang Mamah, terlebih kepada cucu-cucunya. Mamah sering menelpon kami menanyakan kabar Ayal dan Ilham (sungguh kami durhaka sering lupa telpon). Kiriman makanan dan uang jajan juga selalu diselipkan kalau kami pulang ke Pandeglang.

Kemarin, saya menangis saat menelpon Mamah (karena saya masih positif corona, kami tak bisa bertemu walaupun sama-sama di Pandeglang). “Maafkan Ulil ya, mah, nggak bisa jaga Aa.” Respon Mamah sungguh menenangkan hatiku. “Semua takdir Allah,” begitu ucap Mamah. Tak ada nada menyesal, atau menyalahkan. Beliau malah mengkhawatirkan kesehatanku dan anak-anak. Dan memang sejak Abah sakit, kira-kira begitulah sikap Mamah. Berpasrah dan berdoq pada Allah, secara berkala mengecek kami. Raut muka beliau selalu menampakkan ketenangan, bahkan di saat-saat kritis anak yang pernah dikandung dan disusuinya. Masya Allah, hanya orang-orang beriman kuat yang bisa seperti itu.

Bahkan semalam Mamah masih mengingatkan untuk meng-qada (ganti) sholat fardhu yang ditinggalkan Abah saat keadaan tidak sadar. Ya Allah, beruntungnya Abah mempunyai ibunda seperti Hajjah Mursinah.

Kini, Abah dimakamkan bersebelahan dengan Apa (Bapak) di makam keluarga di daerah Majasari, Pandeglang, tak jauh dari rumah Mamah. Kamu pasti sudah tenang, Bah. Doakan aku bisa setenang dan sekuat Mamah, untuk Ayal dan Ilham.

Pandeglang, 16 Februari 2021

Leave a comment