“Facing twenty thousand of your friends.
How can anyone be so lonely.” (Super Trouper, ABBA)
Salah satu hal yang menyatukan saya dan Abah adalah ngegosipin teman-teman. Bukan cuma teman dari lingkaran kami di UI dan Kyoto, tapi juga teman Abah di Banten maupun teman SMP-SMA dan kolega kantor saya. Infonya dari mana? Terutama medsos, lah. Jadi, habis scrolling kami mulai asyik ngegosip. Ini begini, ini begitu, ini dulu gini sekarang gitu, dsb. Hehe, maafkan ya, tapi insyaallah nggak buruk, kok. Kebanyakan kami mengagumi pencapaian teman-teman. Misalnya, “X tambah cakep n langsing, ya”, “Y tajir nih, hebat dia”, “A dan B baru ketemuan, nih”. Yah begitulah kerjaan kaum kepo seperti kami.
Nggak cuma via medsos, kami berdua sebenarnya suka “ngumpulin” orang. Di saat pandemi gini, sempat kami ikutan online meeting dengan teman-teman, terutama teman kuliah di FISIP UI. Terakhir kami zoom meeting dengan Muti, Ocie, Bobby. Cita-cita terakhir Abah benernya pengen kemping bareng di daerah Bogor bareng teman-teman. Belum kesampaian.
Yang agak geli benernya, Abah ini sering ikut ngumpul sama teman-temanku sekolah di Surabaya (terutama SMA), yang memang kayak keluarga perantauan, dulu sebelum pandemi ada kali seminggu sekali ketemuan di sekitar Tangerang. Jadilah topik gosip kami berkembang tentang teman-temanku, apalagi Abah saling follow dengan beberapa teman.
Karena aku kelihatannya banyak teman dan sering ngumpul/telpon/chat, Ayal sempat nanya, “Abah punya teman nggak, sih?” Dikiranya Abah cuma main sama Ayal, Ilham, dan kucing kali. Eh, Abahnya pundung.
Kini, Ayal nggak perlu pembuktian lagi. Dia sudah lihat ratusan atau bahkan ribuan simpati dari teman-teman Abah. Di dunia maya, di dunia nyata (karangan bunga, orang-orang yang datang). Semalam, anak-anak mendengarkan Tribute to Abah: Doa dan Cinta (https://youtu.be/1CtaUIgZtrg). Nggak henti-hentinya Ayal berdecak, “Abah keren, ya”, “Abah hebat, ya”, dan akhirnya “Abah temannya banyak, ya.” 😀
Ah, dari acara semalam yang berlangsung lebih dari 4 jam, saya jadi bener-bener kangen sama Abah. Kangen ngegosip. Gimana nggak, semua teman-teman Abah ngumpul di situ, plus orang-orang yang bersimpati (sebelumnya belum kenal bahkan). Tambah fans lo, bah. 😀
Kalau dari buku tentang Roh tulisan Ibnu Qayyim Al Jaziyah (1999) yang kemarin saya baca, roh orang yang sudah meninggal dunia (terutama yang baik, karena tidak sibuk menerima siksa kubur) bisa melihat hal-hal yang detail dan terperinci dari apa yang terjadi di dunia. Berarti Abah udah nggak usah kepo lagi, ya. :’)
Pandeglang, 17 Februari 2021