Jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Kira-kira begitu prinsip hidup Abah. Mungkin karena itu, Abah nggak pernah silau sama jabatan – dan pejabat.
Sebelum meninggal, dalam pekerjaannya, Abah menjabat sebagai Kepala Laboratorium Ilmu Pemerintahan di Universitas Sultan Agung Tirtayasa di Serang, Banten. Sebelumnya apa aja ya, lupa, hehe. Kayaknya Kepala Program Master Administrasi Publik dan Kepala Program Studi Ilmu Pemerintahan. Nah, di jabatan terakhirnya juga Abah benernya mau mengundurkan diri. Abah pengen lebih menikmati hidup tanpa jabatan, mendidik anak remaja, dan banyak kemping. Uang tunjangan jabatan juga bisa dikasihkan ke yang lebih butuh, kayaknya ke salah satu dosen muda yang baru punya anak. “Aku kan bisa dapat duit dari mana-mana, uangnya lebih berguna buat dosen-dosen muda itu,” kira-kira begitu kata Abah.
Dalam organisasi, Abah adalah Ketua ILUNI UI Banten. Seperti biasa, Abah punya cita-cita besar untuk Banten yang ingin disalurkan melalui ILUNI. Makanya Abah semangat untuk kegiatan baksos dan beberapa webinar. Tapi di saat-saat terakhir, Abah memang punya rencana mengalihkan ke teman-teman yang lebih muda, yang lebih punya energi.
Terus di Pramuka Kwarda Banten juga kayaknya sebagai apa gitu, Abah emang cinta banget sama Pramuka.
Saya jadi ingat testimoni Uda Hasan Nasbi, senior Abah di Politik UI. Katanya, waktu itu Abah Ketua Forum Studi Islam FISIP UI, dan Hasan Ketua HMI FISIP. Tapi Abah jadi “anak buah” Hasan sebagai Ketua Bidang di HMI. Dan Abah tetap melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik, menyelenggarakan LK HMI sampai dua kali.
Memang segitunya Abah sama amanah, akan melakukan yang terbaik, sekecil atau sebesar apa pun. Konon katanya, ini nilai yanh diwariskan dari almarhum Apa, ayahanda Abah, bahwa jabatan jangan dikejar, karena amanah Allah yang memantaskan.
Kini, melihat deretan jabatan yang dipegang Abah baik dalam pekerjaan maupun organisasi, dari dulu, sepertinya bukan hanya saya yang bilang Abah adalah orang yang amanah. Terlihat dari semua yang pernah bekerja sama, punya kenangan baik tentang Abah dan mengalirkan doa tak henti-henti. Terharu banget.
Terakhir, saya jadi ingat waktu Abah kalah dalam suatu kompetisi jabatan. Abahnya sih santuy, karena dia pasti sudah usaha terbaik, dan berarti ya senang lah gak dapat amanah, bisa lakukan hal-hal lain. Tapi biasanya saya yang sebel. “Ah, they dont deserve you, Bah! You will find a better place! The place that respects you,” gerutuku. Dan, ya, sekarang Abah sudah berada di tempat yang paling pantas, yang paling menghargainya, yaitu di sisi Allah bersama para syuhada. Al-Fatihah.
Pandeglang, 18 Februari 2021