Semalam dapat memoar yang indah tentang Abah dari teman-teman yang pernah bareng merantau ke Kyoto, Jepang: https://abahobituary.wixsite.com/abahhamid.
Membaca tulisan teman-teman dan melihat foto-fotonya, sungguh membuat saya sadar, kami semua punya kenangan indah tentang Abah.
Ya, salah satu fragmen penting kehidupan kami sekeluarga adalah ketika Abah melanjutkan studi doktoral di Doshisha University, Kyoto, pada tahun 2012-2015. Saya yang berstatus PNS mengambil Cuti Di Luar Tanggungan Negara (CLTN), agar bisa bersantai eh menghabiskan waktu bersama keluarga. Ini memang semacam janji Abah pada awal pernikahan kami, akan membawa aku dan anak-anak kami merasakan tinggal di luar negeri. Tuntas sempurna janjimu, Bah. :’)
Kami beruntung bisa merasakan tinggal di luar negeri, di Kyoto yang agung, bonus bertemu dengan orang-orang baik pula.
Para perantau dari Indonesianya baik-baik. Seperti Jafar Suryomenggolo kawan pertama kami di Kyoto, yang mengantarkan ke apato (apartemen) hingga meminjamkan (atau ngasih?) sepeda. Jafar ternyata anak FHUI jadi kami juga suka bergosip soal para alumni Depok, hehe. Lalu kami dipertemukan dengan Kak Wina, Pak Ishaq teman kuliah Abah dan Mbak Shanti istrinya, Mbak Riris dan Mas Faesal yang masakannya enak, Rosita dan Bondan, dr. Cepi dan dr. Eka, Mbak Yudia dan Pak Muhar, Nadya dan Muna mahasiswi Doshisha, Tika sahabat kecil kami, dkk, dkk (maaf kalau ada yang nggak kesebut).
Belum lagi orang-orang Jepangnya juga baik-baik. Takdir mempertemukan saya dengan Fumie Kawasaki, seorang pecinta Indonesia, di sudut bermain anak-anak di Imperial Palace Park. Fumie pula yang membawa saya bersahabat dengan Megumi Nishi, Miki Okamoto, dkk. Kebetulan mereka mengelola JAFORE (multilingual playgroups) perkumpulan untuk para orang tua lintas negara yang tinggal di Kyoto.
.
Tempat favorit untuk ngumpul-ngumpul dan makan-makan adalah di tepi Sungai Kamogawa, tepatnya dekat deltanya. Aku lupa nama jalannya, hehe. Di sana, nggak orang Indonesia, nggak orang Jepang, kadang turis, menghabiskan waktu. Orang tua melepaskan penat. Anak-anak bermain di sungai terutama kalau musim panas. Kata Abah, “Aku di Pandeglang aja main di sungai terakhir waktu kecil.” Abah selalu merasa beruntung anak-anak bisa dekat dengan alam justru di Jepang.
Di kemudian hari kami tahu bahwa dulu pun Kamogawa suka banjir, kayak Ciliwung aja (semoga Allah melindungi para korban banjir di Jakarta dan sekitarnya). Tapi tahun berapa gitu (1960an?), pemerintah berusaha memperbaikinya, hingga jadi tempat yang layak seperti sekarang.
Tapi kenanganku tentang Kamogawa tidak hanya keriaan dan keramaian bersama teman-teman. Kenangan sentimental mungkin yang paling mendominasi. Hampir setiap hari saya menyusuri sungai itu bareng Abah. Kebetulan kampus Abah memang dekat sama Kamogawa. Biasanya saya ke sana sesudah mengantar Ilham sekolah atau urusan rumah sudah beres atau kursus Jepang saya sudah selesai. Kami janjian makan siang dengan bekal yang kubawa. Abah bawa kopinya. Kadang kami jajan hemat, cari lauk yang murah meriah. Salah satu favorit kami adalah karaage di Pasar Imadegawa. Setelah itu, kalau lagi teguh pendirian, Abah balik ke kampus dan saya lanjut menyusuri kuil-kuil di Kyoto. Favorit saya Kuil Shimogamo, ya di delta Sungai Kamogawa itu. Habis itu belanja atau jemput Ilham sekolah.
Tapi seringnya, kami keterusan sampai sore di Kamogawa karena Abah mengerjakan disertasinya di samping saya. Abah juga “maksa” saya tetap produktif dengan membuatkan http://www.tentangkyoto.com atau https://indonesianatkyoto.wordpress.com. Biar saya nggak malas, nulisnya kudu ditemenin, alasannya gitu, hehe.
.
Atau bahkan saya dan Abah nggak ngapa-ngapain di tepi sungai Kamogawa. Ngobrol omong kosong aja. The art of doing nothing. (makanya saya heran bisa lulus tiga tahun, kayak sulap)
Kelebatan-kelebatan kenangan di Kamogawa memang kayak nggak nyata, surreal. “Kayak mimpi, ya,” entah Abah, Ilham, atau Ayal yang ngomong, kalau lihat foto-foto kami di sana. Mungkin sama kayak sekarang, ketika Abah pergi, kami merasa ini hanya mimpi.
Pandeglang, 21 Februari 2021