Ilham Khalid Pramunsyi Hamid


“Climb every mountain
Ford every stream
Follow every rainbow
Till you find your dream”
(OST The Sound of Music, 1965)

Ilham adalah hadiah dari Allah yang datang tiba-tiba. Saya dan Abah baru tahu ada Ilham di rahim saat usia kandungan lebih dari lima bulan. Anggaplah itu keteledoran saya, hehe.

Jadilah seorang bayi laki-laki lahir pada 22 Februari 2008, diberi nama Ilham Khalid Pramunsyi Hamid. Ilham itu singkatan dari ulIL-HAMid (alay kata anak2 wkwkwk). Khalid diambil dari nama Khalid bin Walid, panglima perang terbaik, sahabat Rasulullah, idola Abah tentu aja. Pramunsyi kalau tidak salah artinya orang berilmu atau sufi ya, lupa euy, itu nama hadiah dari penyair Zawawi Imron. Hamid tentu aja anaknya Hamid, hehe.

Waktu itu saya pikir datangnya Ilham adalah hadiah buat almarhumah Ibunda, yang memang mendambakan cucu laki-laki (perempuan kan sudah ada Ayal, biar Ayal nggak iri). Dan memang kira-kira setahun setelah Ilham lahir, Ibunda dipanggil Allah.

Ilham lahir ketika saya mulai sibuk berkarir. Jadilah kami familiar dengan ASI perah, ditinggal Ibun lembur dan dinas, dsb. Puncaknya ketika saya mesti kuliah di Belanda selama setahun, saat Ilham umur 3 tahun.

Beruntungnya, Ilham diasuh langsung oleh Abah sejak bayi. Menangani segala urusan ASI perah di rumah, MPASI, menggendong, memeluk, memandikan, dll. Ada kisah ketika Ilham bayi, ditaruh di boks sama Ayal dan Abahnya sholat Jumat buru-buru. Ada foto juga, Ilham ditaruh di ember di samping Abah yang sedang jemur baju. Apalagi ketika saya kuliah jauh, makin menempel lah sama Abah sang orang tua tunggal.

Akhirnya saya memutuskan untuk jadi full time mother (sebelumnya part time yaaa, ledek Abah) karena ikut Abah kuliah S3 di Kyoto. Sekalian menebus “2N+1” ninggalin Ilham (1 tahun kuliah, 3 tahun cuti di luar tanggungan negara), hehe. Tapi itu tidak membuat Ilham jadi “lepas” dari Abah, malah kayaknya makin nempel. Walaupun sehari-hari saya berusaha menebus untuk mengantar jemput Ilham sekolah, memasak, menemani bermain, dll, kalau malam tetap saja maunya tidur dan didongengin Abah.

Daaan, kebiasaan tidur dan didongengin Abah itu kebawa hampir seumur hidup Ilham. Sampai sebelum kami kena Covid19, Abah masih suka mengendap-endap ke kamar Ilham. Entah tiba-tiba Abah subuh-subuh sudah di kamar Ilham, atau sebelum tidur alasan mau “ut” (baca: peluk) Ilham dulu. Saya sering protes ini bukan kebiasaan yang baik, harusnya anak tidur sendiri umur sekian karena alasan begini begitu. Biasanya Abah cuma nanggepin, “Ibun kebanyakan baca teori parenting.”

Ya, mungkin mengutip kata Ayal, “Abah itu pendidik alami.” Di balik segala perilaku dan karya anak-anak (salah satunya adalah https://komikaru.wordpress.com/ karya Ilham), ada didikan Abah.

Sejak pandemi, Ilham dan Abah punya beberapa hobi baru. Salah duanya adalah nonton drakor dan kemping. Ilham adalah pendamping setia Abah nonton drakor, terutama kalau saya sok sibuk eh gak sesuai selera drakornya. Drakor terakhir yang ditonton Abah dan Ilham adalah the Uncanny Counter. Selain itu, Abah juga rajin mengajak Ilham kemping, biasanya ke daerah Bogor. Ya, berduaan aja, ikut acara komunitas. Abah memang sempat berbisik, ingin menyiapkan Ilham jadi laki-laki sejati lewat acara-acara kemping ini.

Saya juga nggak tahu tentu aja bahwa dibalik kedekatan Abah dengan Ilham dan Ayal, ada takdir yang sudah menanti. Dan Ilham menurut saya adalah yang paling siap menyambut takdir itu. Mungkin yang mengenal Ilham akan heran, karena biasanya anak ini terlihat manja, sensitif perasaannya, lembut suaranya, kadang-kadang suka nangis.

Tapi di saat-saat terakhir Abah, Ilham berubah menjadi laki-laki yang mengagumkan. Ilham menggantikan Abah menjadi imam sholat jamaah kami di rumah (Ilham sudah baligh). Ilham memasak dan menyiapkan  makanan ketika saya terlalu lemah untuk bangun. Ilham lah yang menghibur saya dan Ayal yang tak henti menangis ketika Abah kritis. “Kan kalau meninggal karena wabah, syahid, bun,” katanya. Masya Allah, anak laki-laki Abah.

Bahkan ketika kabar kematian Abah datang, Ilham mendengar dengan tegar dan langsung siapkan memimpin sholat ghaib. Saya yang jadi jamaahnya, antara menangis karena kepergian Abah, juga haru melihat Ilham.

Dan akhirnya, Ilham mengazani Abah di tempat peristirahatan terakhirnya. Sesuai dengan pesan Abah dulu, “Anak diajari agama, (salah satunya) kalau kita meninggal, bisa lah mensholatkan dan mengazani di kubur.”

Yes, Abah, you raise a gentleman, Ilham Khalid Pramunsyi Hamid.

Pandeglang, 20 Februari 2021

Leave a comment