Tadi sebelum azan Subuh, saya menangis mendengar Sholawat Badar dilantunkan dari corong masjid. Jadi ingat, sholawat ini yang meruntuhkan pertahananku ketika Ibunda wafat. Saya bisa tegar dari mulai beliau kritis sampai selesai pemakaman, namun ketika dibacakan Sholawat Badar saat tahlilan, saya menangis tersedu-sedu. Saya teringat Ibunda yang menyukai sholawat ini.
Kini, 12 tahun kemudian, saya kembali kehilangan orang yang paling dicintai. Dan kehilangan pasangan hidup itu memang berat kata Profesor Marlina S. Mahajudin, Guru Besar Psikiatri Universitas Airlangga, yang juga ibunya Anya, kawan baik saya SMP-SMA-kuliah. “Sekuat-kuatnya mental orang, kalau pendamping kita “pergi” serasa di amputasi. Makin dekat kita dg pasangan amputasi itu semakin besar dan parah daaan pada organ yg penting,” begitu katanya.
Ya, saya masih di fase antara percaya tidak percaya Abah sudah berpulang. Kadang kalau sedang ramai dengan keluarga atau teman, atau sedang becanda dengan anak-anak, saya bisa “melupakan”. Tapi sejenak kemudian saya teringat Abah dan merasa sedih. Apalagi kalau lihat foto dan barang-barang pribadinya. Sungguh saya merasa nggak sanggup hidup tanpa Abah. Beberapa hari sejak kepergian Abah, saya mulai bisa mengontrol perasaan. Yang biasanya random nangisnya, sekarang setiap sholat dan ngaji.
Yang menghibur saya tentu saja anak-anak, lalu dukungan keluarga, sahabat, teman, maupun orang-orang yang nggak saya kenal yang mendoakan Abah.
Selain itu, mempelajari agama juga membuat saya tenang. Selama isolasi di Pandeglang, saya membaca beberapa buku yaitu Roh karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah dan Hidup Sesudah Mati karya Bey Arifin. Mengetahui bahwa roh-roh baik hidup bahagia di alam sana, bisa melihat detail dan terperinci apq yang sedang terjadi di dunia, bahkan bisa saling berkunjung dengan sesama roh baik (Al-Jauziyah, 1999). Saya berdoa agar Abah termasuk roh baik.
Arifin (1994) mengingatkan tentang firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 169-170, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka berbahagia terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”
Tentu saja Allah yang menentukan apakah Abah gugur di jalan Allah atau tidak. Kami hanya sadar berada di tengah wabah yang tak berkesudahan, seperti medan perang. “Kita survive aja syukur,” kira-kira begitu kata Abah kalau kami membahas dengan getir tentang (penanganan) Covid19.
Dan begitulah Abah, tak hanya gelisah, tapi juga mencari solusi. Motivasi terbesar Abah serius jadi Youtuber (https://youtube.com/c/abahhamid) saat awal pandemi tahun 2020, adalah untuk membuat orang lebih banyak tinggal di rumah, untuk mencegah penyebaran Covid19. Konten https://youtu.be/grCpJmYl1Og atau https://youtu.be/4wZNIPbEGPM sudah ditonton ratusan ribu orang, dan sepertinya sih sangat bermanfaat.
Mungkin ini hanya harapku, kalau benar ini adalah perang, semoga Allah benar-benar menjadikan Abah sebagai syuhada. Kuharap ketika mendengar Sholawat Badar, aku tak lagi menangis, tapi tersenyum bahagia.
Pandeglang, 23 Februari 2021