Penyesalan

“Love means never having to say you’re sorry.” (Segal, 1970)

Saat ulang tahunnya, Ilham menerima kabar kalau satu dari sembilan kucingnya meninggal tertabrak mobil. Ilham sedih banget, menangis lama tanpa suara. Dia bahkan menyalahkan dirinya, “Coba kalau kita masih di rumah.” Ayal langsung menanggapi, “Memangnya kalau di rumah, kita bisa ubah keadaan? Takdir, Ham.”.

Aku terhenyak. Selama beberapa waktu ini aku dihantui penyesalan serupa Ilham. Aku mempertanyakan, aku mempersalahkan, banyak keputusanku kepada Abah. Kenapa aku nggak bisa menjaga Abah lebih sehat? Kenapa aku suka marah-marah sama Abah? Kenapa aku bawa Abah ke rumah sakit? Kenapa aku ijinkan Abah dipasang ventilator? Kenapa kenapa? A lot of what ifs.

Penyesalan-penyesalan itu membuatku menangis terus, nggak bisa tidur, merasa kosong.

Beruntungnya, aku dikelilingi keluarga dan sahabat yang selalu mendukung. Ibunda Abah menguatkanku kala aku meratap, “Semua takdir Allah.” Adikku Ira, tanteku yang dokter, semua bilang bahwa tindakan medis yang diambil adalah yang terbaik. Sahabat-sahabatku Hana dan Muti selalu berada di pihakku setiap aku menelpon mereka dan mempertanyakan keputusanku. Belum lagi dukungan sahabat-sahabat yang lain. Ustadz, psikolog, semua bilang bahwa pertengkaran suami istri adalah biasa, minta ampun saja pada Allah, jangan disesali.

Terakhir, tadi pagi, aku mendengar cerita dari kakak iparku tentang anak ketiganya yang meninggal saat usia 10 bulan. Sudah ditangani profesor di RSCM, tapi nggak terselamatkan juga. Teteh cerita ada penyesalan-penyesalan serupa aku. Tapi akhirnya semua kembali ke takdir Allah.

Seperti kata Ayal, kita nggak bisa mengubah keadaan kalau Allah sudah mentakdirkan.

Aku hanya bisa membayangkan, apakah roh Abah akan membisikkan kutipan di atas dari buku favorit kami, Love Story?

Pandeglang, 24 Februari 2021

Leave a comment