Ini topik yang sulit buat saya. Nyata. Tapi menyakitkan. Gara-gara mulai baca berita kali ya, jadi gelisah lagi, hehe.
Sebenarnya saya berusaha menghindari berita sejak Abah masuk RS pada 30 Januari 2021. Saat itu saya yang sedang demam, batuk, pusing karena Covid, menyetir dan menunggui pemeriksaan Abah di rumah sakit dari 14.00 hingga 22.00. Abah kondisinya lebih parah dari saya. Saya tambah khawatir karena Abah nggak biasa ke RS. Itu jadi pertemuan terakhir kami. Dan saya nggak bisa nggak nangis tiap mengingat detail kejadian itu.
Saya nggak mau buka berita, apalagi kalau tentang Covid19, karena takut menambah emosi negatif. Sudah cukup energi dikerahkan untuk mengatasi penyakit dan emosi untuk keluarga. Ya, bagi saya waktu itu, berita yang ada sangat menyakitkan, mengingatkan diskusi saya dan Abah tentang penanganan Covid19 yang… begitulah.
Ketika Abahnya meninggal, Ayal berujar, “Abah korban kegagalan negara mengatasi Covid19.” Ya Allah, gelisahnya anak Abah sang aktivis. Saya bilang supaya Ayal fokus pada emosinya dan masa depannya, juga berdoa untuk Abah.
Kini, saya mulai berani buka berita lagi. Ada berita positif seperti vaksin dan penurunan jumlah kasus Covid19. Banyak juga yang negatif, gak usah disebut satu-satu ya, hehe. Tapi yang menganggu memang orang-orang yang masih nggak percaya Covid19, menganggap penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya, menganggap orang-orang di daerah imunnya tinggi maka kasus Covid19 rendah.
Saya jadi ikut mempertanyakan, apa benar begitu?
Qadarullah, tadi pagi saya dengar kabar sepupu suami di Pandeglang meninggal dunia mendadak. Katanya sih asam lambung. Tapi, ya, kita nggak tau ya, katanya tidak pernah di-swab. Di Pandeglang, setahu saya tidak ada layanan swab PCR (mungkin di RSUD ada?). Adanya swab test antigen di 3 klinik swasta. RSUD pun katanya tidak menerima pasien lagi, entah penuh kasus Covid atau bagaimana. Ya Allah, benar-benar kita nggak tahu apakah kasus kematian mendadak di daerah ini karena Covid19 atau penyakit lain.
Saya juga dengar kabar sahabat saya kuliah, Maya, kena Covid19. Duh rasanya sedih kalau ada yang kena Covid19. Moga2 Maya dan keluarga segera sembuh. Kan katanya tren kasus Covid19 sedang turun.
Menurut berita, terjadi penurunan angka penderita Covid19 di dunia. Indonesia pun semakin turun pasien baru Covid19 dan antrean di RS hampir tidak ada (cuitan Prof Zubairi Djoerban).
Tepat setelah kami menjadi bagian dari satu juta sekian pasien Covid19 pada 28 Januari 2021. Dan Abah berpulang pada 13 Februari 2021.
Saya bersyukur kalau kasus Covid19 benar menurun. Saya juga bahagia melihat orang berduyun-duyun divaksin.
Gelo (kecewa, menyesal) tentu saja ada. Aduh, Abah, sebentar lagi benernya kamu bisa divaksin loh, kan PNS Dosen sebagai sektor prioritas. Tapi, ya, kami beriman pada takdir Allah.
Saya benar-benar berharap pandemi Covid19 ini segera berakhir. Jangan ada korban lagi. Jangan ada yang mengalami kesedihan seperti kami. Cukup. Kabulkanlah, ya, Allah.
Pandeglang, 26 Februari 2021