Setelah dua minggu isolasi mandiri di rumah kakak ipar di Pandeglang, akhirnya kemarin aku balik ke rumahku di Tangerang. Bareng Ayal dan Ilham, diantar kakak dan adiknya Abah. Dalam perjalanan Pandeglang – Tangerang, kami mampir rumah Eni, dan kakak-kakak di Serang. Oh ya, kemarin paginya aku juga udah nyekar ke makam Abah, ngomong aja mau balik ke rumah (padahal mah roh bisa lihat di mana aja ya).
Sebelumnya aku merasa cemas, takut. Takut histeris dan nangis karena teringat Abah di rumah. Takut nggak bisa mengasuh anak-anak tanpa Abah. Takut menghadapi kenyataan (setelah melarikan diri sekian lama). Takut semuanya.
Di rumah, kami disambut Tante Ira dan Elah, yang bantu di rumah. Sore, kakak Abah yang tinggal di Pamulang juga datang. Hari ini, rencananya teman-teman SMA-ku mau datang. Aktif ya, buuun. Mungkin karena suasana ramai, aku hampir nggak merasa sedih.
Tadi pas kebangun sholat tahajud, ya aku ingat Abah, masih (dan akan selalu) hampa, dan nangis juga. Tapi gak sehisteris yang kubayangkan. Lalu aku lihat buku-buku Abah, aku malah merasa bahagia. Keren ya suami akoh, bacaannya bermutu (kek dibaca aja 浪).
Aku masih nggak bisa tidur di kamar kami (tidur di kamar Ilham). Aku juga masih sedih lihat barang-barangnya (tapi aku jadi semangat membayangkan beberapa barang bisa diberikan ke orang lain biar lebih manfaat). Aku masih ingat apa yang Abah lakukan di setiap pojok rumah mungil kami, yang dibeli tahun 2011 atau 2012 dan baru ditempati ditempati tahun 2016 atau 2017 ya (lha kok lupa).
Aku masih belum tahu, ke depannya bakal berumah di mana. Inginnya sih balik ke rumah keluarga di Jakarta (dulu aku dan Abah tempati 2004-2012). Tapi Ilham pengen di Tangerang karena ada kucing-kucing. Di mana pun, semoga aku dan anak-anak bisa menata hidup baru tanpa kehadiran fisik Abah. Tenanglah engkau di rumah-Nya, Abah.
Tangerang, 28 Februari 2021