Peran Ayah

Peran Abah sebagai seorang ayah untuk Ayal dan Ilham, sudah sering diceritakan. Clear as sky. Abah tinggal menuai pahalanya dari benih-benih kasih sayang dan didikannya ke anak-anak.

Peran Abah sebagai ayah bagiku, itu mungkin yang baru kusadari.

Abah memang sering becanda, anaknya bukan cuma dua, tapi tiga sama aku. Aku memang sekacau anak kecil, plus suka manja. Tapi egoku mendorongku bilang aku gak mau dididik Abah, hubungan kita kan setara. Pret ya, bah. 

Sejujurnya, aku punya hubungan yang nggak baik dengan ayah kandungku. Seingatku, ayah kandungku hampir nggak pernah hadir secara penuh dalam hidupku. Mungkin sibuk.

Aku memang hidup berkelimpahan materi sejak kecil. Tinggal di rumah besar. Dikelilingi banyak pembantu. Apapun yang kuminta sebagian besar dituruti, sebut saja makanan, buku, boneka, sampai mobil.

Tapi yang kusadari ketika dewasa, itu nggak cukup membuatmu bahagia. Itu kusadari terutama ketika kulihat anak-anakku begitu bahagia dengan Abahnya “hanya” dengan tertawa bareng karena sesuatu yang remeh, nangis karena apa lalu dipeluk, didongengin sebelum tidur, ditemani belajar, dsb dsb. Padahal rumah kami kecil, pembantu juga datang sekali-sekali, barang-barang yang diminta juga sering nggak dituruti karena keuangan kami terbatas.

Aku merasa pantas dicintai, kalau aku mencapai sesuatu. Jadi ranking 1, jadi juara ini, melakukan apa yang bisa meningkatkan status. Padahal cinta yang tulus kan nggak seperti itu ya? Hehe.

Abah pernah bilang, dorongannya untukku supaya jadi high achiever lagi, itu buatku dan buat ayahku. “Ayahmu butuh itu,” kata Abah, dan somehow I need that gitu kira2. Dan aku tahu kamu nggak butuh itu, Bah, karena kamu mencintaiku dengan tulus. Makasih, ya.

Pandeglang, 6 Maret 2021

Leave a comment