Mulai kemarin, aku menginap di rumah keluarga di Jakarta. Di sini biasanya cuma ditempati Ira, adikku. Setelah Abah pergi, aku dan Ira memutuskan tinggal bersama sampai dia menikah (soon, ameen). Tinggalnya di mana, apakah di Tangerang atau Jakarta, ya kita lihat nanti. Yang pasti anak-anak lebih pengen tinggal di rumah Abah di Tangerang.
Di rumah Jakarta ini, aku dan Abah memulai kehidupan berumah tangga pada tahun 2004. Numpang Pondok Mertua Indah ceritanya. Karena mertuanya sering bolak-balik ke Surabaya, awalnya kami yang mengurus rumah ini. Tapi lama-lama orang tua dan adik-adikku pada tinggal di sini juga.
Kenapa nggak tinggal terpisah dari ortu dari awal menikah? Itu juga penyesalan aku dan Abah sih haha, selalu kami berikan nasihat itu ke para pasangan muda. Kami sempat berniat ngontrak/nyari rumah di Depok, biar dekat sama UI. Tapi kagak boleh lah sama ortu aye. Biar ada yang ngurus rumah gratisan kali yaaa. Karena kalau dihitung-hitung, operasional rumah besar ini lebih gede daripada nyicil rumah.
Anyway, we start our marriage life here. Ayal (dibuat dan) lahir di sini, eh maksudnya di RS Duren Tiga, 2,9 km dari sini. Ilham lahir di RSUD Budi Asih, 2,5 km dari rumah ini. Jadilah Ayal anak Jaksel dan Ilham anak Jaktim.
Aku dan Abah membangun mimpi-mimpi kami di rumah ini. Kami yang fresh graduate dan misqueen, tapi punya banyak keinginan. Aku ingat di ruang tamu, Abah menunjukkan kertas yang menunjukkan rencananya beberapa tahun ke depan. Plan A begini, kalau gagal Plan B begini. Wow, aku yang hidupnya mengalir cuma bisa terkagum-kagum – sekaligus terintimidasi, hehe. Abah juga yang mendorongku untuk mencapai mimpiku, bahkan “membuatkan” mimpi. “Kamu harus jadi Dirjen,” ketika aku keterima CPNS Depbudpar. Aku sebaliknya juga meminta, “Aku pengen kita sekolah dan tinggal di luar negeri sama keluarga.”
Dari awalnya kami serabutan. Abah memang mengajar di UI sejak lulus, tapi bukan dosen tetap. Sempat kerja di konsultan, bikin perusahaan training, bahkan jualan flashdisk dan brownies. Nggak berlanjut, rejekinya di dunia akademik kayaknya. Aku berhenti jadi wartawan Gatra karena hamil Ayal. Pengennya jadi penulis, tapi nggak bisa disiplin sendiri, akhirnya gagal. Jadi memang kami benar-benar struggling, berjuang secara keuangan, sambil harus membiayai rumah besar ini. Subsidi dari ortu? Hehe dengan bangga kami bisa bilang kami berdiri di kaki sendiri, tidak ada sepeser pun bantuan keuangan dari Ayah dan Meme.
Untungnya, waktu bayi, anak-anak dapat ASI Eksklusif, murah meriah tapi terbaik, hehe. Abah juga mendidik anak-anak supaya nggak manja. Ada foto waktu bayi, Ayal harus ngepel lantai yang ditumpahi minumannya. “Biar hidup mereka kelak nggak susah,” kira-kira begitu kata Abah, tentang bekerja keras.
Walau (ngaku2) miskin, bagi kami pendidikan adalah prioritas. Aku suka membacakan buku sejak anak2 hamil sampai sekarang (dilirik anak2 hehe, Ibun boong). Abah mendidik anak dengan caranya: mendongeng, berdiskusi, menemani mengerjakan tugas, dsb. Waktu umur 2-3 tahun, Ayal kami ikutkan PAUD di mushola depan rumah (terus pindah ke masjid kompleks). Biar bergaul sama anak-anak di lingkungan juga maksudnya. Tradisi ini kami teruskan untuk Ilham. Ketika masuk usia TK, kami masukkan Ayal ke Kidea, 3,7 km dari sini. Buat ukuran keluarga muda kayak kami, nggak murah biaya sekolah di sini. Tapi demi anak ya, Bayal, ingat, hehe.
Alhamdulillah, walau nggak gampang, satu-satu mimpi kami tercapai. sebagian besarnya terjadi di rumah ini. Mulai dari pekerjaan tetap, tahun 2006 kami sama-sama keterima jadi CPNS, Abah di Untirta, aku di Depbudpar. Lalu punya properti sendiri seperti apartemen Kalibata, rumah (yang di Serang sudah dijual, lalu beli di Tangerang), tanah di Serang. Melanjutkan kuliah, Abah S2 di Undip, aku S2 di Tilburg, Abah S3 di Doshisha. Akhirnya kami bisa mencapai mimpi kami tinggal di negeri yang seperti dongeng, tahun 2012-2015. Thanks, Abah, Kyoto is more than my expectation.
Sepulang dari Kyoto, Abah memutuskan fokus mengajar di Untirta, jadi mau melepas UI sama sekali. Oh wow, kaget ya, melepas UI yang bergengsi. Memang walaupun status dosen tetap di Untirta, Abah masih ngajar di UI (2004-2012). Biasanya 2-3 hari di Serang – awalnya nginep di Pandeglang atau rumah Teteh di Serang, terus beli rumah di Serang. Lalu 2 hari di Depok, naik KRL (belum Commuter Line namanya) gak jauh dari rumah ini. Ngajar PIP dan Politik Desa kalau nggak salah.
Walaupun shock, aku mencoba mengerti keputusan Abah. Mungkin juga selain melepaskan diri dari bayang-bayang UI, Abah mau melepaskan bayang-bayang rumah ini, hehe. Kami memang putuskan hengkang dari sini pada tahun 2015.
Tahun 2011 atau 2012, waktu mau ke rumah Eni di Pandeglang, kami iseng mampir kompleks perumahan yang ada iklannya di Tol Jakarta-Merak. Spontan kami ambil rumah itu karena DP 0%, hehe. Dan baru 2016 kami tempati rumah Tangerang, setelah sebelumnya dibangun dan dikontrakkan.
Dan memang tinggal di rumah sendiri walaupun gubuk jauh lebih nikmat ya, Bah? Tapi sekarang, Bah, aku sedih kalau tinggal di rumah Tangerang, selalu ingat kamu. 沈
Jakarta, 13 Maret 2021