40 Hari

Sudah 40 hari Abah pergi.
Rasanya? Masih seperti diamputasi.
Ruang hampa di hati masih menganga.
Sementara, hidup harus terus berjalan.

Aku berjuang sendiri mengasuh Ayal dan Ilham. Sering merasa nggak sanggup. Sering nangis. Sering merasa berdosa. Biasanya ada Abah yang jadi tandem. Kalau anak-anak nggak nurut sama aku, begitu Abah bilang “lakukan”, langsung deh. Abah, gimana aku bisa mengasuh anak2 tanpamu? 

Tapi aku mesti banyak bersyukur. Ira selalu bareng aku dan anak-anak. Dia banyak bantu aku banget, terutama kalau aku emosi berat, Ira yang bantu ngomong ke anak2. Teman-teman kirim whatsapp hampir tiap hari, nanya kabar, ngasih semangat, kadang ngirim makan. Fabiayya ala irabbika tukadzdziban.

Terus kamu harus bangga sama aku loh, bah. Aku ngurus-ngurus dokumen kematianmu sendiri, hehe. Gara-garanya yang dimintain tolong gak beres ngurusnya, udah aku ambil alih lah. (Kapan-kapan aku nulis serius lah soal dokumen2 terkait kematian, biar kayak kamu suka berbagi, bah) Lumayan, hampir tiap hari ke kelurahan. Jalan kaki tapi gak kurus-kurus. Tiap nyebrang rel kereta di Rawajati, aku ingat kita yang suka jalan kaki dari rumah ke apartemen Kalibata City. Ya,  tapi intinya dokumen2 sebagian besar beres. Pokoknya aku mau nyelesaiin segala urusanmu di dunia, dan memastikan anak-anak hidup baik.

Aku juga mulai kerja. Lagi ngadepin lelang pula. Timku udah bantu banget. But still, stressful. Biasanya aku numpahin emosiku ke kamu ya bah, maafkan, aku menyesal. Aku jahat banget sama kamu, bah.

Abah, aku kangen. Pengen ketemu kamu. Tapi aku harus menata hidup tanpamu di dunia. Semalam dalam keadaan setengah mimpi, aku merasa ada yang bilang, “Yang penting anak-anak”. Apa itu kamu, atau alam bawah sadarku?

Jakarta, 24 Maret 2021

Leave a comment