Sakura

Beberapa hari lalu, Ono san mengirim pesan whatsapp kepadaku. Isinya, bunga sakura yang bermekaran di halaman rumahnya di Osaka. Dia menanti keluarga kami datang ke Jepang, mengundang untuk menginap di rumahnya. Sejak Abah meninggal, Ono san memang sering mengirim pesan whatsapp berkali-kali.

Ono San adalah sahabat Abah sesama mahasiswa doktoral di Doshisha University. Sayangnya karena kesibukan sebagai pengacara, dia nggak melanjutkan studinya. Firma hukum Ono San ada di tengah kota Osaka, tajir lah intinya wkwkwk. Dia sering diundang Pemerintah Indonesia via dana JICA sebagai penasihat hukum perburuhan ala Jepang.

Waktu di Jepang, kami sering diajak jalan sama Ono san dan istrinya, Hiromi san. Mereka berdua tipe pasutri yang nggak mau punya anak, tapi memilih memelihara anjing. Tapi begitu ketemu Ayal dan Ilham, mereka senang banget, menganggap sudah kayak anaknya.

Kebiasaan di Jepang ini diteruskan ketika kami kembali di Indonesia. Setiap Ono San datang ke Indonesia, dia pasti minta ketemu, mentraktir anak-anak makan enak sambil ngobrol bahasa Jepang (sama anak-anak, bukan sama aku, hehe).

Ono San bukan satu-satunya orang Jepang yang bersikap baik kepada kami. Tak terhitung berapa pesan whatsapp yang kuterima dari negeri Sakura. Sebagian kenangannya bisa dibaca di sini https://abahobituary.wixsite.com/abahhamid.

Okamoto Masaaki, profesor di Kyoto University, sahabat sekaligus kolega Abah, menanyakan kabar Abah mulai dari sakit sebelum wafat. Termasuk tadi malam, baru saja ada pesan dari Okamoto Sensei  menanyakan kabarku dan anak-anak. Ketika memberikan testimoni di acara mengenang Abah, beliau terlihat banget sangat berduka. Ah, Sensei, aku masih ingat jelas, proyek pertama yang diberikan ke Abah tahun 2004, membantu biaya melahirkan Ayal. Terima kasih.

Minggu lalu, aku juga menerima paket dari Jepang. Ternyata dari Megumi Nishi, sahabatku saat tinggal di Kyoto. Profilnya bisa dilihat di sini, https://indonesianatkyoto.wordpress.com/2014/12/11/megumi-nishi-perempuan-jepang-yang-saya-kenal/. Aku sungguh terharu membaca surat pendeknya. Anak-anak pun senang mendapat oleh-oleh dari Jepang.

Sungguh bersyukur atas persahabatan kami dengan Ono San, Okamoto Sensei, Megumi San, dan banyak orang Jepang lainnya.

Tiba-tiba teringat sakura yang bermekaran di Jepang saat ini. Indah, memberi kebahagiaan. Datang ketika fuyu – musim dingin – berakhir, sebagai pertanda datangnya haru – musim semi. Umurnya tak panjang, tapi kenangannya selamanya. Sepertimu, Abah.

Leave a comment