Alhamdulillah. Akhir pekan yang melelahkan, tapi melegakan.
Pengajian di Pandeglang lancar. Keoyarga Abah (El-Musri) mengundang tetangga-tetangga dan beberapa anak pesantren. Meskipun deg-degan lihat sekitar 50 orang ngumpul di rumah Eni. Kita tekankan protokol kesehatan, bagikan masker dan hand sanitizer. Ilham protes, kok pada nggak dipakai maskernya. Yah, begitulah kenyataannya di pelosok negeri kita, nak.
Ya, aku masih deg-degan, pandemi belum berakhir. Tapi secara psikologis kami butuh ngumpul-ngumpul kayak gini. Saling bercerita tentang Abah, menangis bareng, ketawa bareng sama adik kakaknya Abah. Anak-anak juga bahagia banget bisa main sama hampir semua sepupunya. Akhirnya ya aku tegaskan aja ke anak-anak supaya tetap pakai masker dan rajin cuci tangan. Yah, upaya minimal.
Karena anak-anak sibuk main dan tidur baremg saudara-saudaranya, aku jadi punya waktu luang. Akhirnya malam minggu aku telponan sama Muti dan Hana sampai 3 jam! Hehe rekor, berasa anak muda. Tapi nenar-benar menyenangkan. Sering-sering, ya.
Oh ya, ada teman SMA-ku juga yang datang ke rumah Eni dan bahkan makam Abah. Siska namanya, dia kerja di Cilegon.
Pulang dari Pandeglang, aku mampir ke Cikupa, nemuin Prof Marlina. Aku udah cerita kan ya, beliau adalah Guru Besar Psikiatri Unair. Mamanya Anya, temanku SMP sampai kuliah. Sejak Abah meninggal, aku sering curhat eh konsultasi sama beliau. Dan itu membantuku banget. Prof Marlina lagi di Cikupa, ngunjungi kakaknya Anya, Mas Ardi idola kami dulu para remaja hehe.
Bertemu Prof Marlina langsung, benar-benar buat hati lega. Bukan hanya aku, anak-anak pun kagum, terutama Ayal. Kami curhat isi hati kami. Prof Marlina bilang aku dan anak-anak kelihatan kuat. Aamiiin, semoga, berkat dukungan semesta ini. Beliau cerita gimana dulu ditinggal wafat suaminya, ketika Anya mau lulus SMP mau masuk SMA. Sampe lupa daftar ulang Anya. Akhirnya Anya gak masuk SMA 5, jadinya masuk SMA 2. “Gpp kan ketemu Ulil jadinya,” katanya. Hehe iya, aku berhutang semangat sama beliau. Dulu waktu SMA, beliau orang yang percaya aku cocok masuk HI UI, ketika orang tuaku menentang keinginanku – karena pengen aku masuk ITS kayak Ayah. Bayangkan gimana gak boost semangat, didukung psikiater kenamaan di Surabaya. 沈
Abah, aku masih sedih dan hampa. Ini bakal selalu ada. “Granny butuh waktu 2 tahun untuk nggak down,” kata Prof Marlina. Tapi paling nggak, Allah, aku bersyukur banget karena aku dan anak2 disayangi banyak orang. Bersyukur keluarga Abah baik banget. Bersyukur teman2 kami baik banget. Fabiayya ala irabbika tukadzdziban.
Pandeglang – Jakarta, 28-29 Maret 2021