Hai, Baho. Aku lagi di Novotel Cikini, acara diklat analis kebijakan gitu, deh. Ngaco, sih, diadakan offline. Yaaa, udah, lah. Ini anak-anak akhirnya ikutan nginep di hotel. Padahal aku bolak-balik Kalibata juga gak apa-apa benernya.
Abah, inget nggak, duluuu banget pas jaman kuliah, aku pernah naik kereta bareng kamu dari Stasiun UI ke Stasiun Cikini. Gak sengaja ketemu tentu aja. Kalau nggak salah itu tahun 2001. Kamu ikutan demo menentang Gus Dur (yang akhirnya kamu sesali bertahun-tahun kemudian haahaha), mau ngumpul di UI Salemba. Aku mau les Bahasa Perancis di CCF (yang nggak berhasil bikin jago parlez francais). Kamu sendiri atau sama siapa gitu, kayaknya bukan anak FISIP kalau pun ada. Karena akhirnya kita ngobrol berdua di kereta – atau KRL nyebutnya jaman itu.
Aku nggak habis pikir kenapa harus menentang Gus Dur? Aku bukan pendukung Gus Dur, tapi aku nggak melihat ada kesalahan signifikan sehingga dia perlu diturunkan. Dan aku bilang sama kamu, Bah, aku sebel demo anti Gus Dur kok menyinggung kelemahan fisiknya. Kebetulan aku ikutin betul demo-demo ini, literally hehe, kan aku wartawan Suma (Suara Mahasiswa) UI. Yang demo jalan kaki dari bunderan HI sampai Gedung DPR aku juga ikut liputan, ngintilin Mbak Astari, bareng Ella kalau nggak salah. Lumayan cuma kita ceweknya, buat ngecengin akhi-akhi #eh
Kamu jawab – dengan santai tapi tetap bersemangat seingatku – alasan-alasan kenapa harus demo. Kamu membeberkan alasan-alasan rasionalnya. Tentu aja aku nggak ingat, kan terpesona sama kharismamu wkwkwkwk. Yang aku ingat, kamu membenarkan kritikku, bahwa kita nggak boleh menyinggung kelemahan fisik seseorang.
Diskusi terhenti karena kereta berhenti di Cikini. Aku lupa apa kamu akhirnya jalan kaki lewat kamar mayat RSCM atau akhirnya nemenin aku naik metromini ke Salemba. Kayaknya yang terakhir deh, biar bareng aku. Dih GR, wkwkwk.
Aku masih merasakan, obrolan kita begitu hangat sore atau malam itu, melewati 10 stasiun. Aku les dengan senang, dan ketika pulang ke Depok (sendiri tentu aja, eeeh apa ada Ocie ya? Haha maaf Cie kalau lupa), aku kayaknya langsung cerita dengan gembira ke sahabat-sahabatku (Muti? Hana? Maya?).
Bertahun-tahun kemudian, kita masih sering ke Cikini, ya, Bah. Aku ingat kita rame-rame sama temen2 kuliah nonton Spiderman di bioskop Megaria/Metropole. Ini pertama atau kedua kalinya nonton bioskop. Dih, pantes sampai akhir hayat dirimu demen banget sama Marvel Cinematic Universe.
Mas kawin kita juga belinya di toko emas Cikini. Yang ngutang Muti kalau nggak salah wkwkwk, miskinnyaaaa. Waktu awal nikah juga pas kita masih miskin, kan pernah makan di KFC Cikini. Aku beliin paket Chaki biar hemat. Terus kamu ngambek. Maafkan ya. 沈
Abah, I don’t know how to overcome this feeling. I really miss you.
Jakarta, 30 Maret 2021