Bila ada satu kata menggambarkan adikku Ira, aku akan bilang: setia.
Ya, terutama setia pada keluarga.
Irawati Apriliany lahir di Pamekasan, 1 April 1985. Sebagai adik bungsu dari aku dan Dimas, Ira lahir ketika kondisi ekonomi orang tua sudah mapan. Dulu kupikir itu yang membuatku iri. Menurutku adikku ini terlalu dimanjakan, secara materi. Dibelikan balon, boneka, pager, hape, dsb. Aku ingat waktu SD, Ira dibeliin balon terus aku sebel, apaan sih udah gede juga. Sampai suatu waktu aku iri dan minta dibelikan boneka yang sama dengan Ira. Nyebelin ya aku, diks.
Tapi beranjak dewasa, kupikir yang membuatku iri bukan pada materi. Tapi pada kasih sayang berlimpah yang Ira dapatkan, terutama dari Ayah dan Meme. Aku merasa harus berjuang keras mendapatkan kasih sayang orang tua: harus juara, harus sekolah yang bagus, harus berprestasi, harus menjaga nama baik keluarga, dsb. Sementara tanpa melakukan itu, Ira bisa “gratis” disayang ortu.
Which is right. Yang bener kan ya gitu, ya.
Mungkin itu yang buat Ira jauh lebih tenang, nggak panikan dan gampang stress kayak aku. Dia orang yang fulfilled.
Seingatku Meme cerita kalau Ira disusui paling lama, mungkin sampai 2 tahun. Terus kayaknya Ira masih tidur sama Meme sampai remaja. Dan Ira masih tinggal di rumah keluarga sampai sekarang. Beda dengan aku yang punya reputasi di keluarga, suka kabur. Waktu remaja jarang di rumah, kalau nggak ngeband ya ngeluyur ke mana gitu. Kuliah sengaja milih yang jauh. Sementara aku kabur ke Depok dan Dimas ke Bandung, Ira dengan tenang melanjutkan kuliah di Surabaya aja, dekat dengan keluarga.
Tapi menjadi anak yang setia pada keluarga, tentu nggak mudah. Ira yang tahu segala macam obat yang harus diminum Meme sepanjang sakit ginjalnya hampir 20 tahun, sampai meninggalnya tahun 2008. Ira yang merawat Dimas bertahun-tahun, dari ketika divonis autoimun/lupus hingga wafat pada 2018. Benar-benar merawat dan menghadapi masalah. Bukan kayak aku yang pencitraan dan tukang kabur kalau ada masalah.
Januari 2021, aku sekeluarga terkena Covid19. Ira juga yang menghadapi masalahnya. Mulai dari memastikan stok makanan kami aman. Mengantar Abah pindah rumah sakit, mengurus segala urusan administrasinya, mengirimkan keperluannya, menginap berhari-hari di hotel dekat RS ketika Abah kritis. Hingga akhirnya Abah wafat pada 13 Februari 2021, Ira lah yang mengurus semuanya – di saat aku nggak bisa berbuat apa-apa.
“Nasibku menandatangani surat kematian 2 mas-ku,” begitu kira-kira kata Ira.
Nasib pula yang membawa Ira menjadi orang tua Ayal dan Ilham.
Tapi Allah Maha Mengetahui segala kebaikanmu, Diks. Semoga Allah memberimu ganjaran berkali-kali lipat dari apa yang kamu lakukan. Semoga urusan duniamu dilancarkan, jodohmu didekatkan pada saat yang terbaik. Semoga bahagia dunia akhirat.
Happy birthday, Irawati Apriliany. Thanks for being my sister. I love you.
Jakarta, 1 April 2021