Prosedur

Abah sering ingatkan kira-kira, “Ikuti aja prosedurnya.” Konteksnya tentu saja prosedur administrasi berbelit-belit di RI. Mulai dari bikin KTP, SIM, sampai pengajuan jabatan fungsional/pangkat/golongan.

Karena Abah sangat kritis sama sistem, perilaku ini kadang mengherankanku. (Kok nggak protes aja gitu wkwkwk. Gak menyelesaikan masalah sih pasti kata doi)

Untuk berkas kenaikan jabatan fungsional dosen misalnya, Abah punya file excel sampe folder isinya kertas2 buat lampirannya. Ada di satu boks khusus. Rajin banget dah. Gak rapi2 amat, tapi ada di satu tempat yang gampang dicari.

Untuk perpanjang SIM, Abah cari infonya dan datangi satu per satu tempatnya. Di tempat bikin SIM di Scientia Square Park, udah hampir disamperin tengah malam. Karena pas kita ke sana pertamanya, sama petugasnya disuruh ganti nomor, which is pada ngantri dari tengah malam. Fiuh. Untung Abah dapat info baru abis browsing, milih ngantri di Kantor Polisi daerah Serpong. Lebih sepi bener. Ini tautannya: https://youtu.be/m0jz05ly6VY

Ketika Abah wafat, awalnya aku nggak ikut-ikut soal pengurusan berkas kematian. Ira yang urus dan minta tolong tetangga yang biasa ngurusin. Lebih dari sebulan, aku sudah sembuh dari Covid dan balik ke rumah, baru nyadar ini Akta Kematian kok belum jadi. Padahal selama sakit, aku rajin ingatin orang yang dimintain tolong. Jadilah akhirnya aku lanjutkan sendiri prosesnya, datangin langsung mulai dari Ketua RT, Ketua RW, Kantor Kelurahan. Jadi dong akhirnya. Setelah jadi, Ira baru dapat info ternyata sudah ada apps buat urusan dukcapil di DKI, termasuk bikin Akta Kematian. Tirorit.

Setelah ngurus Akta Kematian, aku kebawa ngurus berbagai dokumen, seperti: KTP baru, KK baru, Surat Pernyataan Ahli Waris, Taspen, penutupan rekening bank, dsb. Janji sama diri sendiri akan nulis tentang pengurusan dokumen kematian ini satu per satu. Siapa tahu manfaat buat orang lain.

Ribet? Pastinyaaaaa. Tapi tiap capek, selalu ingat pesan Abah, “Ikuti aja prosedurnya.”

Tangerang, 27 April 2021

Leave a comment