Karir

Tadi pagi aku lapor pimpinan dan tim di kantor, insyaallah minggu ini sudah mulai kerja. Moga-moga sudah kuat, ya. Mau nggak mau kudu mulai kerja, kan sekarang jadi tulang punggung keluarga.

Tapi nggak tahu gimana rasanya kerja tanpa ada Abah. Biasanya Abah yang bener-bener back up aku kalau lagi kerja.

Beberapa tahun ini kerjaanku tuh kayak 24/7, ngurusin media sosial, media digital. Abah, lah, yang sigap ngurusin anak, ngatur rumah, nyiapin makanan, dsb. Gimana aku ini kan gak ada multitasking-multitaskingnya, huhuhu. 蠟

Sampai kata Ayal kemarin, “Memang Ibun bisa ya merawat kita tanpa Abah?” 浪 Y⁹a, kalau terpaksa ya gimana, yak.

Tapi memang dari dulu, Abah mendukungku “beraktivitas”. Aku harus di tempat yang bikin aku bahagia (dan itu di pekerjaan menurut Abah). Aku harus kuat, mandiri, punya penghasilan. Aku harus jadi contoh untuk Ayal sebagai anak perempuan. Begitu lah, aku udah sering cerita kan, ya.

Waktu baru nikah dan aku jadi wartawan, Abah dukung aku. Kadang nemenin liputan.

Waktu aku mutusin berhenti karena hamil Ayal, Abah juga nggak protes. Padahal kita lagi nggak punya uang. Tapi Abah pengen aku beraktivitas. Aku mau jadi penulis, kebetulan lagi dapat beasiswa kursus singkat menulis. Biar aku rajin nulis, aku dibeliin karpet biar nyaman. Huhu padahal uangnya terbatas. Apa daya aku begitu pemalas, nggak ada karyanya. Maafin, ya, bah, aku nyesel banget. 

Waktu aku mau daftar PNS, juga sebenarnya dibebaskan mau di mana. Cuma dari diskusi kami, baiknya jangan Kemlu. Karena Abah akan fokus berkarir di Indonesia, terutama di Banten. Kek gw bakal keterima aja di Kemlu (kayaknya ini udah diramal Abah, sih). 

Aku daftar CPNS di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata waktu itu. Terima kasih untuk info dari Pak Cecep senior kuliah kami. Maklum info penerimaannya cuma ditempel di papan pengumuman dekat lift lantai 1 di kantor. Alhamdulillah keterima di sini.

Awal meniti karier, maunya aku santai-santai ala ibu-ibu PNS yang punya anak. Tapi Abah bilang, “Kamu harus jadi Dirjen.”  Gimana anak manja nan pemalas kayak gue dikasih target begitu. 

Abah kasih career plan dan gimana cara mencapainya (oh dia sudah punya untuk dirinya sendiri tentu aja). Aku manggut-manggut, sedikit demi sedikit sisi diriku yang high achiever mulai muncul lagi.

Dan, ya, Abah membuktikan komitmennya mendukung karirku. Tentang mengurus anak-anak dari bayi, semua juga sudah tahu.

Yang ekstrim yang kuingat jelas, waktu itu Ayal umur 2 tahun apa, ya. Ayal harus opname di RS karena diare atau apa. Sedangkan saya harus dinas luar kota. Sambil gendong Ayal di RS, Abah suruh aku berangkat dinas, selesaikan tanggung jawabku. Ya Allah, mana tega yak.  Akhirnya aku berangkat dinas juga, begitu urusannya kelar, langsung pulang lebih cepat.
Ya, segitunya komitmen Abah untuk mendukungku.

Ketika pulang dari Jepang dan aku balik kerja lagi, Abah selalu menanamkan ke anak-anak untuk mendukung pekerjaanku. “Ibun udah diwakafkan untuk negara”, “Ibun adalah Ibu Pariwisata Indonesia” (preet), “Ibun calon Deputi”, selalu diulang-ulang hingga jadi mantra yang diucapkan kembali oleh anak-anak. Padahal aku hanyalah seorang kacung kampret (yang berbakat kata Abah ).

Bulan Desember 2020 kemarin, aku terpilih jadi Perempuan Inspiratif di Kemenparekraf. Saat diumumkan, Abah sedang mencari STNK yang kuhilangkan. Dia cuma geleng-geleng liat keteledoranku.

Aku, pun, geleng-geleng, Bah. Rasanya kayak mimpi aja semua ini. Aku nggak tahu apa aku sanggup melanjutkan karirku tanpa Abah. Siapa yang nge-charge-in hapeku? Siapa yang utak-atik software di laptop? Siapa yang huhuhu. Aku jelas harus kerja untuk nafkah. Tapi aku udah nggak punya ambisi apapun, ambisi yang awalnya Abah tanamkan.

Tangerang, 1 Maret 2021

Leave a comment