Konon 40 hari sebelum orang meninggal, sudah ada pertanda-pertandanya. Well, I don’t know. Dalam kasus Abah, aku melihatnya sebagai sesuatu yang biasa-biasa aja, yang memang akan dia lakukan.
Kemarin aku beres-beres baju peninggalan Abah – yang keren-keren itu. Bulan Januari atau akhir Desember ya, memang Abah rajin bersih-bersih. Ya baju, ya sepatu, ya buku. Antara memang rajin sama suasana tahun baru kali, ya. Waktu itu Abah mengeluarkan sebagian bajunya untuk dikasihkan ke Ombi, suami Elah, asisten di rumah. Sebagian lainnya di lemari, “Buat Ilham nih, bentar lagi cukup.” Abah memang panggil Ilham buat coba baju-bajunya. Ukuran baju Abah L-XL. Ilham biasanya M, tapi memang udah cenderung ke L (sekarang XL kalii, tambah ndut). “Kaos-kaos dipake aja sampe jelek, terus dijadiin lap,” begitu kira-kira kata Abah. Benernya itu biasa aja, kan, ya? Hehe. Anyway, I quickly settled up Abah’s clothes. Sebagian besar buat Ilham, kaos2 buat kami pakai di rumah, dan ada 2 kotak yang bakal dibagikan ke orang-orang. Semoga bermanfaat.
Aku beres-beres sambil dibantu Elah. Elah sudah bekerja di rumah Tangerang sejak 2017 atau 2018, ya (lupa lagiii). Biasanya masuk di siang hari, Senin-Jumat. Tapi saat pandemi, aku minta masuk 2-3 hari seminggu. Elah cerita dengan suara bergetar, tentang betapa baiknya Abah (dan gw lah wkwkwkwk GR). Ini yang buat dia paling betah di rumah kami dibanding pengalaman sebelumnya. Dia juga merasa sehari sebelum kami divonis Covid, Abah bertambah baik. Terlihat senang, bernyanyi bareng anak-anak (???), dan minta tolong Elah bersihin halaman depan. “Padahal biasanya nggak pernah minta tolong, Bu,” katanya. Masa? 樂
Aku juga tiba-tiba teringat, waktu kasih gaji Elah. Sehari sebelum atau waktu kami merasakan gejala Covid, tapi masih di rumah, Abah nanya sudah berapa tahun Elah ikut kami. Aku bilang sekitar 3-4 tahun. “Belum pernah dinaikin gajinya, ya? Naikin deh, bun,” sarannya. Akhirnya kami naikkan gaji Elah, cukup signifikan. Ya iyalah waktu itu aku mikir, kejam juga yak kita kagak naikin gaji orang yang bertahun-tahun kerja. Tapi ternyata mungkin itu pertanda, atau kubilang, warisan kebaikan Abah.
Masih banyak “pertanda” lain. Abah juga beresin sebagian buku-buku yang mau dikasihkan ke orang. Sepatu-sepatu keren yang dibilang akan dipakai Ayal dan Ilham karena ukurannya sama, 42 atau 43.
Ada juga “pertanda”, atau yaaa, aku bilang warisan kebaikan Abah sebelum meninggal. Abah memutuskan pulang ke Pandeglang sekitar tahun baru (1-3 Januari 2021 kalau nggak salah). Tengah malam, kami terbangun karena sepupu Abah di Jakarta meninggal karema Covid19. Abah dan kakak-kakaknya kemudian menolong mengurus surat-surat untuk pemakaman almarhum. Gagal, sih, nggak bisa dibawa ke makam keluarga di Pandeglang. Tapi ternyata ini jadi “jalan” Abah bisa dimakamkan di luar Jakarta, karena keluarga sudah tahu apa yang harus diurus (dan juga kelancaran dari RSPAD-nya tentu aja).
Oh ya, ada satu yang buat aku terharu. Bulan Januari tuh Abah sibuk bantu senior kuliah kami, Bang Arafat yang sakit cukup serius. Abah sibuk kontak teman-teman, karena sebelumnya info ini sangat terbatas. Alhamdulillah, terkumpul bantuan lumayan besar dan ada yang nengok. Bang Arafat akhirnya bisa berobat dengan baik ke dokter. Melihat Bang Arafat sekarang sudah kembali berjualan Nasi Kebuli, sungguh membuatku bahagia. You did it, Bah, I am very proud of you.
Apa pun pertandanya, semua tahu Abah orang baik. I love you, Abah.
Tangerang, 3 Maret 2021